Puisi Boy Candra
"Dulu kemana saat aku ingin kamu ada. Padahal aku menjaga semuanya
dengan sepenuh hati, tapi kamu malah betah pergi-pergi.
Dulu kemana saat aku tidak ingin kita usai. Berhari-hari aku bertahan
sendiri. Bersikeras agar kau tidak pergi. Tapi kau masih ingin mencari tualang
lain.
Kini, saat aku sudah biasa saja, kenapa malah ingin mengulang semuanya.
Kenapa malah berharap kita masih seperti yang dulu kupinta.
Hatiku tak lagi biasa. Kamu tak lagi ada di sana. Kamu hanya masa lalu.
Seseorang yang dulu kurindu tapi selalu mengabaikanku."
–boycandra
"Ayah jarang mengajakku bicara. Mungkin karena berpikir dia harus
memberiku kesempatan untuk memilih jalan hidupku. Baginya, memberi ruang lebih
luas akan pilihan hidup adalah memberi kesempatan untuk lebih bertanggung
jawab. Aku percaya, ayah pasti mencemaskanku saat aku dihadapkan dengan
pilihan-pilihan besar dan berisiko. Tapi, sekali lagi, ia ingin aku
memperhitungkan setiap keputusan sendiri. Ia ingin aku menjadi anak yang siap
menerima risiko dari setiap tindakanku. Ayah, hanya tak ingin aku menjadi anak
manja dan cemen, meski di saat yang sama dia terlihat tidak begitu peduli.
Seolah tidak begitu sayang. Padahal, aku percaya, ia hanya sedang menunjukan
rasa sayang dengan cara yang berbeda. Rasa sayang seorang lelaki yang ingin
anaknya berani menentukan sikap dan siap bertanggung jawab akan hidupnya.
Bagiku, ayah bagaimanapun caramu, engkau adalah juara."
–boycandra
"Aku mengerti bahwa hidup adalah perkara menikmati perjalanan. Seperti
beberapa temanku yang akhirnya sampai di jalur masing-masing. Beberapa orang
memilih menikah lebih awal –mungkin memang sudah waktunya– kemudian punya anak
dan hidup dalam sebuah keluarga baru. Beberapa lagi memilih bekerja dengan
rajin, menaiki tangga karir, dan terlihat bahagia dengan pilihan itu. Ada pula
yang melanjutkan pendidikan, memburu beasiswa hingga ke luar negeri –mereka
menemukan tualang yang baru dan bertemu hal-hal yang dulu mungkin asing– yang
mungkin tidak ditemukan oleh yang lain. Aku memilih fokus berkarya –menulis
buku, bagiku inilah petulanganku, inilah perjalananku saat ini. Petualangan
yang membawaku pada banyak hal yang mungkin tidak didapatkan orang lain.
Seperti halnya aku juga tidak mendapatkan apa yang mereka dapatkan. Pada titik
ini aku mengerti, semua hanya perlu disyukuri agar kita bisa tetap merasa kita
punya waktunya sendiri-sendiri."
–boycandraSumber :
http://adisastrajaya.blogspot.co.id/2017/10/kumpulan-puisi-boy-candra.html
Comments
Post a Comment